Situng KPU Bukan Harga Mati

Pasca tahapan pemungutan dan perhitungan suara Pemilu tahun 2019 berlansung, perdebatan tentang Exit Poll (EP), Quick Count (QC), dan Real Count (RC) terkait Pilpres pasti memenuhi beranda media sosial kita, ini terjadi juga dipesta demokrasi sebelumnya. Kawan-kawan saya yang menjadi bagian dari dua kubu sekarang sedang berdebat mati-matian untuk menggiring opini bahwa Quick Count versi KPU yang ada dalam Situng atau Aplikasi hitung cepat di website Pemilu2019.kpu.go.id merupakan hasil final perolahan suara Pilres 2019. 

Ada yang mengatakan semua harus percaya sepenuhnya, apa yang ada didalam Situng, ada juga yang mengatakan saat ini website Pemilu2019.kpu.go.id sedang diretas oleh hacker dari negara lain, KPU RI sendiri mengklarifikasi errornya website Situng karena traffic yang terlalu besar, human error dan sebagainya.

Kawan-kawan ini berhasil memancing saya untuk mencari tau. Sebagai orang awam yang tak paham teori dinamikasi politik, hukum tata negara, teori komunikasi, apalagi bahasa pemograman. Saya mencari refrensi di om google, bahkan saking kesalnya saya harus DM akun Instagram KPU RI untuk segera memperbaiki website JDIH KPU yang tidak bisa dibuka dari kemarin. Padahal saya perlu melihat regulasi terkait proses pemungutan dan perhitungan suara, siapa tau ada diatur.

Tapi jika mengingat proses Pilgub Kalbar 2018 lalu, kebetulan sikit banyak saya mengikuti. Sehingga saya mendapatkan gambaran terkait yang didebatkan kawan-kawan saat ini. Semoga ini tepat untuk saya jadikan refrensi.

Sebagai Informasi dalam Sistem Hitung Cepat versi website KPU perolehan suara pada Pilgub Kalbar 2018 seperti gambar dibawah ini :

Sumber : https://infopemilu.kpu.go.id/…/ha…/cepat/t1/kalimantan_barat






Namun, ketika penetapan akhir yang didapat KPU dari perhitungan manual dan rekapitulasi berjenjang, angkanya tidak sama seperti di Situng. Dimana Paslon nomor urut 3 (Midji – Norsan) yang pada saat itu ditetapkan menang dengan perolehan 1.334.512 suara (sumber: Kompas.com). Dibeberapa Pilkada lainnya di tahun yang sama juga demikian, terdapat perbedaan perolehan suara antara penetapan dan situng KPU. Seperti, Situng Pilkada Maluku Utara dan Situng Pilkada Kalimantan Timur. (Catatan : Data TPS sudah masuk 100%)

Pada akhirnya saya menyimpulkan, terserah apakah Situng Error karena traffic atau di hacker oleh orang-orang tidak bertanggung jawab, atau mungkin ada yang mengklaim data dalam situng dirubah oleh dukun melalui dunia lain. Karena Pada akhirnya angka-angka yang terupload di Pemilu2019.kpu.go.id bukan patokan KPU untuk mengetok palu siapa yang menjadi pemenang.

Berkaitan misalnya ada yang mengklaim kemenangan versi RC, QC atau lainnya itu terserah masing-masing pihak. Mungkin ada juga yang menjadikan Situng KPU sebagai refrensi untuk melihat keunggulan antara calon itu juga tidak masalah.

Pada dasarnya RC, QC, Survei dan sebagainya, tentu dengan metodenya masing-masing adalah upaya meningkatkan partisipasi aktif publik, serta bagian dari keterbukaan informasi atau transparansi dalam dinamika Pesta Demokrasi.

Namun kita juga perlu bersabar menunggu hasil resmi dari KPU RI, sembari mengawal proses rekapitulasi. Sebab dalam aturan sudah sangat jelas, bahwa yang akan dijadikan patokan sesungguhnya adalah perhitungan manual melalui tahapan rekapitulasi berjenjang, dari TPS, PPK, KPU Kabupaten/Kota, Provinsi dan akhirnya KPU RI.

Terserah siapa yang menang, apakah 01 atau 02, tentu harapan kita mereka bisa menyelesaikan persoalan-persoalan ketidakadilan seperti yang dipertontonkan Watchdoc didalam video Sexy Killers dan video-video dokumenter lainnya. Walaupun saya tau harapan-harapan itu, hanya akan menjadi harapan tak berujung.

Perlu digaris bawahi, tulisan ini tidak bermaksud mengesampingkan persoalan-persoalan yang ada pada tahapan pungut hitung pada Pemilu 2019, tentu secara pribadi saya mempunyai banyak catatan dalam tahapan tersebut. Terkait, misalnya ada kecurangan atau tidak sesuai proses pungut hitung silahkan sampaikan kepada pihak-pihak yang mempunyai kewenangan.
"Siapapun presidennya, kita tetap rakyat SIPIL. Kembalilah seperti sedia kala, kembalilah bekerja, kembalilah kekehidupan nyata, kembalilah hidup damai dan rukun. Jangan hanya gara² Pilpres sakit hati dan dendam dibawa sampai ke liang lahat." Bang Nana Arianto

Tulisanku tidak bermakna,tidak berkualitas dan tidak bermanfaat, jadi jangan hiraukan atau dimasukan dalam hati.


EmoticonEmoticon