Dr. Qibul : Manusia Pintar yang Menyesatkan

Saya kira hanya bisa melihat dan mendengar pembodohan - pembodohan itu dari layar televisi saja atau video yang tersebar di media sosial. Nyatanya saya menjadi sasaran dari si Pintar yang menyesatkan. 

Seorang bergelar Dokter yang dikenal piawai mengobati, punya antrian pasien yang panjang di tempatnya membuka praktek dan tak kalah penting orang ini terlihat berwibawa dan pintar dalam ilmu pengetahuan maupun agama. Lebih mudah saya beri nama samaran beliau Dr. Qibul (nama fiktif), ini bagian untuk menjaga privasi seseorang. Karena tidak semua fakta harus diungkapkan secara utuh dan jelas. 

Saat itu saya menjadi salah satu pasien Dr. Qibul. Kebetulan siaran televisi di ruangan kerjanya sedang mengulas Hasil Debat Pilpres 2019, salah satu pendukung dalam siaran tersebut berargumen terkait blunder yang dilakukan lawan Pilpres orang yang didukungnya. Bagi saya hal itu tentu menjadi biasa, karena begitulah tugas pendukung. 

Ternyata siaran yang saya anggap biasa itu, direspon Dr. Qibul dengan sangat judes "Tau apa dia, kasian baru berapa generasi sudah rusak ajaran.......... (ia menyebutkan nama tokoh agama terkemuka dalam sejarah Bangsa) ?" umpatnya. 

Dari umpatan itu, saya bisa menyimpulkan siapa yang akan dipilih pada 17 April 2019 nanti. Sesekali saya bertanya dengan harapan ia terbuka. Sambil melayani saya, Dr. Qibul membeberkan cerita dari orang lain yang dia yakini "FAKTA", mungkin dari sekian banyak pasien, tidak hanya saya mendengar cerita itu.

Setelah saya mendalami saya mendapat kesimpulan, bahwa Dr. Qibul akan tetap pada pendirian. Sekalipun saya mengatakan bahwa apa yang diceritakan kepada saya itu adalah "HOAX", dirinya akan tetap bertahan bahwa cerita yang dia dapat dari orang lain itu "Benar Adanya". 

Padahal tokoh dalam cerita Dr. Qibul ini tidak ada sangkut pautnya dengan argumentasi yang ada dalam siaran tersebut. Karena memang tokoh yang ada dalam cerita tersebut sudah meninggal, sekalipun "pendukung" yang Dr. Qibul komentari itu punya hubungan darah, namun bagi saya cerita itu tidak memiliki relevansi sama sekali.

Apalagi sampai membawa silsilah keluarga dan mengklaim ajarannya rusak. Dr. Qibul saya rasa tau bahwa bapak bangsa / tokoh sejarah mempunyai pengikut atau penerus pemikiran yang berasal dari pengikut Biologis maupun Ideologis. Sehingga, tidak bisa di klaim ajaran rusak, sedangkan pengikut yang lainnya masih menjalankan sebagaimana mestinya.

Sebenarnya cerita berantai seperti ini sudah sering saya temukan, hanya saja kebanyakan, saya temukan dari kalangan masyarakat menengah kebawah, pemuda dan mahasiswa. Baru kali ini, saya secara lansung dan bertatap muka sangat jelas mendengar cerita tersebut, membuat saya #SmackqueenYaqueen bahwa orang yang punya pendidikan tinggi, belum tentu sepintar dan sebijak yang dikatakan oleh orang-orang selama ini. 

Sebenarnya cerita Hoax ini dibuat untuk kepentingan politik beberapa tahun silam. Bahkan Hoax ini muncul jauh sebelum saya mempunyai Hak Pilih. Percayalah dihadapan Dr. Qibul saya merasa lebih pintar dan bijak dari seorang Dokter yang dikenal piawai mengobati keluhan pasien.

Dikatakan Hoax, karena cerita itu sudah banyak mendapat kesaksian dan dinyatakan tidak benar.

Karena apa yang diungkapkan oleh Dr. Qibul didalam cerita itu, tidak sesuai dengan testimoni para Kyai, Pendeta, Tokoh Agama lainya, Politikus, Bangsawan, Pejabat, Masyarakat, Pemuda dan Sebagainya tentang sosok seorang yang dikenal pembela kemanusiaan. "Faktanya" tokoh yang dituduhkan dalam cerita tersebut telah banyak membuat perubahan dalam perspektif kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. 

Melalui Pidato dan Karya Tulisnya yang kaya akan refrensi dari pemikiran timur dan barat serta landasan kuat membuat namanya sampai sekarang masih sering dipuja oleh semua elemen, baik itu berasal dari masyarakat konservatif yang punya pemikiran radikal, serta dari masyarakat yang pluralis, nasional, liberal dan sebagainya. 

Bahkan dalam beberapa kesempatan Para Penceramah yang dikenal sangat keras berpegang teguh pemahaman Agama, sekali-kali mengutip pemikiran tokoh yang dianggap Dr. Qibul itu sesat dan kafir karena berasal dari kaum munafik. Yang perlu diketahui oleh Dr. Qibul bahwa kedua kubu peserta Pilpres 2019 sangat sering menyebut namanya untuk menggalang dukungan masyarakat agar terpilih pada Pemilu 2019.
Kalaulah Dr. Qibul masih beragapan sama, padahal orang yang didukungnya  sering menggunakan nama Tokoh dalam cerita tersebut. Tidak adanya bedanya Dr. Qibul dengan yang dia sebut Munafik. (Kesimpulan saya dari orang bodoh yang menyesatkan)

Dr. Qibul adalah satu dari sekian banyak orang-orang pintar yang menyesatkan dan tidak bertanggung jawab atas kemampuannya yang lebih. Tidak ada alasan bagi orang lain untuk menjustifikasi seseorang apalagi sampai menyebarkan Hoax hanya karena perbedaan dalam memilih. 

Nampaknya, kita harus lebih melakukan intropeksi diri dan menyakini bahwa semua orang berhak berbuat baik untuk bangsa ini, selama apa yang dilakukannya tidak melanggar aturan kenegaraan dan norma sosial yang berlaku di Indonesia. Perbedaan dalam memilih adalah bagian dari proses demokrasi yang saat ini berjalan, jangan sampai karena perbedaan tersebut kita malah saling menjatuhkan berlebihan. 

Karena menurut Kyai Kondang Cak Nun : 

"Presiden yang dibutuhkan oleh bangsa Indonesia bukanlah “siapa”, melainkan “tahu apa” dan “bisa bagaimana”. Siapa-nya silakan saja, yang lebih utama apakah ia mengetahui apa yang seharusnya ia ketahui tentang kebutuhan mendasar sejarah bangsa Indonesia di era sekarang ini sampai beberapa puluh tahun mendatang. Serta seberapa kebisaan atau kemampuannya untuk mengerjakan apa yang ia ketahui itu."
Demokrasi kalau dibangun dengan cara-cara licik, tidak beradab dan tidak berkemanusian akan melahirkan pemerintahan yang tidak mampu menyelesaikan persoalan bangsa ini.
Demokrasi dan Pemilu harus dibangun dengan rasa kejujuran dan kesadaran bahwa bangsa ini perlu gagasan hebat dan berlian untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang di Ridho'i Allah SWT. 

Catatan : 

Mohon maaf pengalaman ini tidak bisa, saya ceritakan lebih spesifik. Sengaja saya tarik ceritanya lebih umum, alasanya : (1) Karena nama baik keluarga Dr. Qibul. (2) Cerita ini tidak berniat membuat kegaduhan dan tidak dimaksudkan menyerang salah satu Paslon. (3) Saya yakin sebagai manusia kita mempunyai potensi untuk melakukan hal yang sama karena fanastisme yang berlebihan.

Tulisanku tidak bermakna,tidak berkualitas dan tidak bermanfaat, jadi jangan hiraukan atau dimasukan dalam hati.


EmoticonEmoticon